Telurus  | Menyajikan Fakta, Mengawal Informasi

Tujuh Tokoh Muncul di Bursa Ketua Umum PBNU Jelang Muktamar NU ke-35

Telurus.com, Empat Lawang - Menjelang pelaksanaan Muktamar NU ke-35, bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mulai menjadi perhatian.

Sejumlah nama tokoh Nahdlatul Ulama disebut berpotensi masuk dalam kontestasi kepemimpinan organisasi untuk periode mendatang.

Pembahasan mengenai calon Ketua Umum PBNU tidak hanya berkembang di lingkungan internal Nahdliyin, tetapi juga ramai diperbincangkan melalui berbagai platform media sosial.

Dinamika tersebut menjadi bagian dari rangkaian menuju Muktamar NU ke-35 yang akan digelar di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.

Bursa calon Ketua Umum PBNU bukan semata-mata berkaitan dengan pergantian kepemimpinan.

Kontestasi tersebut juga akan menentukan arah kebijakan dan perkembangan organisasi dalam beberapa tahun ke depan.

Setiap tokoh membawa latar belakang, pengalaman, serta gagasan yang berbeda.

Sebagian menawarkan keberlanjutan program dan penguatan kemandirian organisasi.

Sementara itu, ada pula figur yang memiliki basis kuat dari tradisi pesantren serta tokoh yang membawa semangat regenerasi dan pembaruan tata kelola organisasi.

Sejumlah nama bahkan telah beredar di media sosial seperti Facebook, Threads, Instagram, hingga X.

Meski demikian, tidak semua nama yang beredar telah memberikan konfirmasi mengenai pencalonannya.

Berdasarkan informasi yang dimuat Majalah Risalah NU edisi khusus Muktamar, edisi 180 Agustus 2026, terdapat tujuh tokoh yang disebut dalam bursa calon Ketua Umum PBNU.

Ketujuh nama tersebut dapat dikelompokkan berdasarkan latar belakang, gagasan, serta rekam jejak masing-masing.

1. KH Yahya Cholil Staquf

KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya merupakan Ketua Umum PBNU periode berjalan.

Gus Yahya lahir pada 16 Februari 1966 dan telah menyampaikan keinginannya untuk kembali memimpin PBNU pada 22 Juli 2026.

Gagasan yang dibawanya menitikberatkan pada keberlanjutan kepemimpinan serta penguatan kemandirian organisasi.

Salah satu kerangka pemikirannya dikenal melalui gagasan “Merawat Jagat, Membangun Peradaban”.

Selain memperkuat organisasi dari sisi internal, kepemimpinan Gus Yahya juga memberikan perhatian terhadap kiprah NU di tingkat internasional.

NU di bawah kepemimpinannya turut mengambil peran dalam berbagai isu global, termasuk perdamaian dan penyelesaian konflik.

2. Prof. KH Nasaruddin Umar

Nama berikutnya adalah Prof. KH Nasaruddin Umar.

Tokoh kelahiran 23 Juni 1959 tersebut saat ini menjabat sebagai Menteri Agama Republik Indonesia dan dikenal sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal.

Nasaruddin Umar memiliki pengalaman sebagai ulama sekaligus birokrat pemerintahan.

Gagasan yang melekat pada dirinya antara lain mengenai pentingnya membangun harmoni kehidupan umat serta memperkuat hubungan antarkelompok.

Namanya juga disebut memperoleh dukungan dari sejumlah cabang NU di luar Jawa.

Kondisi tersebut membuat Nasaruddin Umar dipandang membawa perspektif kepemimpinan NU yang lebih luas dan tidak hanya bertumpu pada satu wilayah.

Pengalamannya di pemerintahan juga menjadi salah satu bagian penting dari rekam jejaknya.

3. KH Abdul Hakim Mahfudz

KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang.

Ia lahir pada 17 Agustus 1958.

Gus Kikin memiliki keterkaitan erat dengan salah satu pusat tradisi pesantren yang mempunyai posisi historis penting dalam perjalanan Nahdlatul Ulama.

Latar belakang Tebuireng membuat Gus Kikin dikenal sebagai figur yang dekat dengan khazanah keilmuan serta tradisi klasik pesantren.

Dalam bursa Ketua Umum PBNU, sosok Gus Kikin dinilai merepresentasikan kekuatan pesantren tradisional yang menjadi bagian penting dari basis kultural Nahdlatul Ulama.

4. KH Muhammad Yusuf Chudlori

KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf juga masuk dalam bursa calon Ketua Umum PBNU.

Gus Yusuf merupakan Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo.

Tokoh yang kini berusia 53 tahun tersebut disebut telah menyatakan kesiapannya untuk maju setelah mendapatkan dukungan dari 23 PCNU di Jawa Tengah.

Gus Yusuf dikenal aktif menyerap aspirasi dari kalangan warga NU di tingkat bawah.

Sejumlah persoalan yang menjadi perhatian dalam gagasannya mencakup kesejahteraan ekonomi masyarakat, persoalan sosial yang dekat dengan kehidupan warga, serta penguatan dakwah berbasis budaya.

Dukungan dari struktur NU di tingkat cabang menjadi salah satu faktor yang membuat namanya semakin diperhitungkan dalam bursa Ketua Umum PBNU.

5. KH Abdul Ghaffar Rozin

KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin menjadi nama lain yang menyatakan kesiapan mengikuti kontestasi Ketua Umum PBNU.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam forum silaturahmi ketua PCNU se-Jawa Tengah pada pertengahan Juli 2026.

Gus Rozin memiliki perhatian besar terhadap sektor pendidikan.

Salah satu gagasan yang dibawanya adalah perlunya paradigma pendidikan yang mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, khususnya bagi warga Nahdlatul Ulama.

Menurut gagasan tersebut, tradisi keilmuan pesantren seperti kajian kitab kuning perlu tetap dipertahankan, namun harus berjalan beriringan dengan kebutuhan akademik dan profesionalitas modern.

Dengan pendekatan tersebut, pendidikan NU diharapkan tetap memiliki akar tradisi sekaligus mampu menjawab tantangan masa depan.

6. KH Zulfa Mustofa

KH Zulfa Mustofa menjadi salah satu figur yang ditempatkan dalam poros regenerasi.

Lahir pada 7 Agustus 1977, KH Zulfa Mustofa termasuk tokoh yang relatif lebih muda dibandingkan beberapa nama lain dalam bursa.

Saat ini, ia menjabat sebagai Wakil Ketua Umum PBNU.

KH Zulfa Mustofa juga dikenal memiliki kemampuan dalam menciptakan syair berbahasa Arab secara spontan.

Dari sisi keilmuan, ia memiliki latar belakang fikih yang kuat.

Dalam konteks kepemimpinan organisasi, sosoknya membawa perpaduan antara penguasaan khazanah Islam klasik dan pendekatan tata kelola organisasi yang lebih dinamis.

7. KH Abdussalam Shohib

Nama terakhir dalam bursa tersebut adalah KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam.

Gus Salam kini berusia 49 tahun dan merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang.

Ia dikenal menyuarakan pentingnya mekanisme pengawasan dan keseimbangan kekuasaan dalam tubuh organisasi.

Gus Salam juga menekankan agar NU tidak terjebak dalam pragmatisme politik.

Menurut gagasan yang disampaikannya, organisasi perlu tetap berpegang pada prinsip keadilan dan kemaslahatan masyarakat.

Kepentingan warga NU menjadi salah satu perhatian utama dalam perspektif kepemimpinannya.

Karena itu, Gus Salam ditempatkan dalam poros regenerasi bersama sejumlah figur yang membawa gagasan pembaruan organisasi.

Dinamika Bursa Ketua Umum PBNU

Kemunculan tujuh nama tersebut menunjukkan bahwa bursa calon Ketua Umum PBNU menjelang Muktamar NU ke-35 memiliki spektrum gagasan yang cukup beragam.

Ada tokoh yang menawarkan kesinambungan kepemimpinan dan penguatan organisasi.

Ada pula figur yang memiliki akar kuat dalam tradisi pesantren serta tokoh yang membawa semangat regenerasi dan pembaruan.

Namun, peta pencalonan masih dapat berubah seiring perkembangan menjelang Muktamar NU ke-35.

Konstelasi dukungan dari struktur NU di berbagai daerah, aspirasi para pemilik suara, serta komunikasi antartokoh akan menjadi bagian penting dalam menentukan arah kontestasi.

Muktamar NU ke-35 nantinya menjadi momentum penting bagi warga Nahdliyin untuk menentukan sosok yang akan memimpin PBNU sekaligus menentukan arah perjalanan organisasi dalam menghadapi tantangan di masa mendatang.

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال